SHERLOCK HOLMES
Genre: Action / Crime
Sutradara: Guy Ritchie
Bintang: Robert Downey, Jr., Jude Law, Rachel McAdams, Mark Strong, dan Eddie Marsan
Film dibuka dengan kilasan-kilasan pendek pertarungan berdarah-darah di ring tinju taruhan di salah satu sudut kota London di tahun 1900 an. Dengan apik digambarkan bagaimana detektif jagoan ini sangat rinci dan penuh perhitungan dalam setiap tindakan dan aksinya.
Versi Buku vs versi Film
Bila kita pernah membaca kisah Sherlock Holmes karangan Sir Arthur Conan Doyle akan tampak sedikit perbedaan karakter dengan yang ada di film. Beruntung saya pernah membaca versi reprinted nya yang edisi aslinya muncul di Strand Magazine.
Di ilustrasi edisi cetak Strand Magazine karakter fisik detektif swasta ini berbadan jangkung dengan dahi tinggi, mempunyai hidung mancung dan tajam. Garis batas rambut di sudut-sudut dahi menjorok ke belakang sedikit botak, serta rambut klimis disisir ke belakang khas England. Coba bandingkan dengan karakter versi filmnya yang diperankan oleh Robert Downey, Jr., fisik badan tidak terlalu jangkung untuk ukuran orang Inggris, rambut tebal dan bergaya “uyek” khas potongan rambut jaman sekarang.
Ilustrasi di Strand dikerjakan oleh beberapa ilustrator kenamaan di masa itu, seperti Sidney Paget , Frank Wiles, A. Gilbert, dan lain lainnya.
Di versi asli Sherlock Holmes digambarkan sangat metodis, rasional, logis-deduktif, dengan mengumpulkan fakta-fakta yang orang lain sering terlewat atau tidak dianggap sebagai fakta penting, kemudian menghubungkan benang merahnya untuk menghasilkan suatu simpulan. Di versi film juga tidak beranjak dengan penggambaran karakter seperti itu.
Metode Sherlock Holmes dapat dirunut kembali ke salah satu pengajar Doyle di Edinburgh Infirmary, Joseph Bell yang menekankan pada proses sederhana dari obsevasi akurat dan deduksi-rasional. Kemunculan pertama Sherlock Holmes di tahun 1887, dalam “A Study in Scarlet,” diikuti dengan “Sign of Four,” di tahun 1890, namun dua karyanya ini masih belum benar-benar menarik perhatian publik sampai kemunculan cerita pendek “Scandal in Bohemia” yang dipublikasikan di Strand Magazine terbitan bulan Juli 1891.
Yang berbeda selain karakter fisik adalah karakter emosi, di film digambarkan sangat romantis dan melankolis meski ditutupi dengan gayanya yang sedikit acuh. Sedang di versi aslinya, seperti biasa khas gentleman England: dingin, fokus, sedikit sarkas, dan ironical. Gaya dan tampilannya di film seperti warna-warni bunga psychedelic, sedang versi aslinya boleh dibilang berwarna abu-abu dingin namun sangat tajam, seperti warna langit di London yang sepanjang tahun selalu mendung.
Perbedaan antara versi asli dan versi film tampaknya memang disengaja oleh sutradara, agar film lebih menjual dan berjiwa Hollywood dengan aksi-aksi jagoan sang detektif dan lekuk liku romantismenya.
Tempo film terhitung sangat cepat, dengan ritme patah-patah, seperti tersusun dari potongan-potongan puzzle yang di akhir cerita akan lengkap menjadi suatu gambaran utuh. Kita dituntut konsentrasi penuh saat menonton film ini. Saya sendiri harus nonton dua kali untuk dapat mencerna jalan cerita keseluruhan.
Tempat tinggal sang detektif dan sahabatnya Dr. Watson (diperankan Jude Law) di Baker Street 221b menjadi “kantor, ” ruang tempat tidur sekaligus “laboratorium” Sherlock Holmes. Dari pihak kepolisian terdapat Inspector Lastrade (diperankan Eddie Marsan). Kemudian ada tokoh wanita kriminal kelas kakap Irene Adler (diperankan Rachel McAdams), yang diam-diam jatuh cinta dengan sang detektif, demikian juga sang detektif juga jatuh hati kepadanya namun tidak mau mengakuinya.
Sebagai tokoh antagonis adalah Lord Blackwood (diperankan Mark Strong), yang memerankan sebagai pimpinan suatu serikat rahasia klenik yang berambisi untuk menguasai Inggris Raya. Sang Lord menjadi lawan berat dari Sherlock Holmes karena kepiawaiannya memanfaatkan pengetahuan dan teknologi untuk mengelabui penegak hukum dan pengikut-pengikutnya, serta berbagai aksi yang dilakukannya untuk memuluskan jalan menguasai pemerintahan Inggris beserta parlemen.
Serikat rahasia ini telah menjangkau kalangan elite London, beberapa anggota parlemen menjadi anggotanya, Duta Besar Amerika di Inggris, bahkan Sekretaris Negara pun menjadi pengikut setianya.
Saat Lord Blackwood dihukum gantung, dengan memanfaatkan komposisi bahan tertentu yang diinjeksikan ke tubuhnya menyebabkan dirinya kelihatan seperti orang mati, detak jantungnya tidak teraba, dan nafas sama sekali tidak terdeteksi. Dr. Watson yang memeriksa ‘mayat ‘nya pun tertipu mengira gembong penjahat ini telah mati. Selang beberapa saat setelah penguburannya, kuburannya ditemukan rusak. Saat peti mati di dalamnya diperiksa ditemukan mayat lain, seorang tokoh masyarakat yang telah menghilang beberapa saat yang lalu. Dari titik ini, penyelidikan sang detektif dimulai.
Peringkat : 3,5 /5
![Reblog this post [with Zemanta]](http://img.zemanta.com/reblog_e.png?x-id=6d2bdbf9-e8f9-4889-a043-1fb6f5b0728f)